Laman

Senin, 01 Desember 2014

Tak Terima

Sesaat suasana hampa. Kau diam. Tak bersuara, tak pula bertingkah. Terlalu lama senja kau biarkan berlalu begitu saja. Gesekan rel kereta memecahkan keheningan. Peluit panjang tanda pergatian penumpang. Namun kau tetap diam dalam keramaian.

Aku lelah menunggu kata. Wajahmu sendu, matamu tak bercahaya. Tak biasanya kau biarkan pikiranku penuh tanda tanya.

"Sindy ... aku telah berjanji padamu, namun tak akan bisa kutepati." Bicaramu pilu. Aku tersentak. Tak dapat kutangkap maksud kalimatmu itu.

"Don, ada apa?"

"Hubungan ini tak akan sampai pada ikatan suci." Kau tertunduk.

"Kenapa, Don ... apa kau sudah tak mencintaiku?"

Kau menggelengkan kepala, menatapku penuh rasa bersalah.

"Aku mencintaimu, Sindy, tapi yang kuharapkan hanyalah perbedaan."

Kini kumengerti. Air mata menetes bersama jiwamu yang mulai jauh meninggalkanku sendiri. Mengapa aku terlahir seperti ini? Terlahir sebagai wanita yang juga mencintai wanita sepertimu, Dona.